PP PSTE, 'Titipan' Asing yang Gadai Kedaulatan Data Indonesia


PP PSTE, 'Titipan' Asing yang Gadai Kedaulatan Data Indonesia Ilustrasi. (LoboStudioHamburg/Pixabay).
 Kredibilitas pidato Presiden Joko Widodo soal menjaga kedaulatan data nasional pada 16 Agustus dan 14 Oktober 2019 dipertanyakan banyak kalangan.

Bukan tanpa sebab, pengesahan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PSTE) dianggap bertolak belakang dengan komitmen kepala negara.

Berdasarkan situs Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Kementerian Sekretariat Negara, beleid yang merupakan revisi dari PP Nomor 82 Tahun 2012 itu telah ditetapkan pada 4 Oktober 2019 dan diundangkan pada 10 Oktober 2019. Waktu penetapan itu menunjukkan pernyataan Jokowi soal kedaulatan data sulit dipertanggungjawabkan.


Dalam revisi beleid PSTE terbaru, pemerintah justru mengizinkan penempatan pusat data di luar negeri. Secara rinci disebutkan pada Pasal 21 Ayat 1, yakni "Penyelenggara sistem elektronik lingkup privat dapat melakukan pengelolaan, pemrosesan, dan/atau penyimpanan sistem elektronik dan data elektronik di wilayah Indonesia dan/atau di luar wilayah Indonesia".


Hanya data dengan klasifikasi tertentu yang wajib disimpan di dalam negeri. Nantinya, aturan soal klasifikasi jenis data dan ketentuan penyimpanan bakal diatur dalam Peraturan Menteri. Hal ini seperti tertuang dalam pasal 20 ayat 6 dan 7 PP PSTE.

Sebelum direvisi, pasal 21 ayat 1 berbunyi "Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menampilkan kembali informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik secara utuh sesuai dengan format dan masa retensi yang ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan".

Sontak saja, pengesahan revisi aturan itu memunculkan suara-suara sumbang. Anggota Komisi I DPR RI Sukamta bahkan khawatir Jokowi tidak mengetahui isi aturan yang ditandatanganinya tersebut.

Di depan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Johnny G Plate, Sukamta menegaskan pengesahan PSTE berlawanan dengan kedaulatan data Indonesia yang disampaikan dalam pidato Jokowi.


"Berarti pak pertanyaannya kan begini, presiden ini bicara tidak tahu yang dibicarakan, atau tanda tangan peraturan tidak tahu yang ditandatangani, atau sebetulnya maunya pak presiden diterjemahkan begitu," kata Sukamta saat Rapat Dengar Pendapat dengan Menteri Johnny di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (5/11).

Dalam pidato 16 Agustus dan peresmian Palapa Ring Oktober lalu, Jokowi secara khusus menyinggung soal data pribadi. Menurutnya, data merupakan komoditas atau jenis kekayaan yang baru atau 'the new oil' dan perlu dijaga kedaulatannya.

Jokowi menekankan tidak ada lagi data yang tidak strategis bagi bangsa Indonesia. Seluruhnya dianggap penting untuk menjaga kedaulatan data Indonesia.

Pidato tersebut tentu berlawanan dengan kebijakan klasifikasi data sesuai risiko pada Pasal 20 ayat 6.


"Bahkan beliau menekankan bahwa data-data penduduk Indonesia bukan hanya data strategis pemerintah, termasuk data konsumsi, data pola hidup bangsa Indonesia. Itu tidak boleh jatuh ke tangan asing," kata Sukamta.

Pengamat teknologi informatika sekaligus Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai kepala negara mungkin saja mengetahui isi dari PP PSTE. Kendati demikian, Heru menuding para pembantu Jokowi yang berusaha menjerumuskan presiden.

"Kalau pidato pasti presiden sangat mengerti. Penjelasan mengenai isi PP mungkin bisa belok, karena Pak Jokowi clear crystal menyampaikan soal kedaulatan data. Jangan sampai data masyarakat, selera konsumen dan pasar diketahui negara lain. Ini kan artinya pusat data harus di Indonesia," kata Heru.

Seluruh data yang ditulis, dikelola, diproses dan disimpan harus ada di Indonesia. Jokowi sudah jelas menyatakan kedaulatan data pada 16 Agustus dan 14 Oktober.

Heru menduga pejabat tinggi yang menyusun PP mendapat titipan bahkan tekanan dari pihak asing.


"Dari zaman PP 82 yang keras menentang kan asing. Pejabat tinggi yang menyusun PP ini mendapat titipan atau tekanan asing," kata Heru.

Dengan kehadiran PP ini, pemerintah seolah berusaha melakukan 'barter' dengan Amerika Serikat (AS) terkait pelonggaran Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) dan pengadaan pusat data demi memperoleh insentif tarif Generalized Systems of Preference (GSP).

"Tidak direct (menyebut) ke negara atau kawasan tapi platform atau yang dikenal dengan Over The Top, tapi ketika ada semacam potensi gangguan terhadap platform tersebut, maka negara dari mana platform berasal ikut melibatkan diri," ujar Heru.

Pratama Persadha, Pengamat Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) sekaligus Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC mengaku kecewa karena pengesahan PP PSTE sangat kontradiktif dengan isi pidato Jokowi soal kedaulatan data.

"PP PSTE yang baru memang kontradiktif dengan keinginan untuk membangun pusat data yang reliable di tanah air. Apalagi boleh untuk memakai pusat data di luar negeri bagi para pelaku bisnis di tanah air," tutur Pratama.


Pratama mengatakan di era perang data saat ini, pusat data menjadi hal yang sangat krusial. Ia setuju agar pemerintah menentukan klasifikasi data agar tidak disimpan di luar negeri.

Padahal, menurut Pratama, kewajiban membangun data center di dalam negeri sangat sesuai dengan keberhasilan pemerintah Jokowi dalam menyelesaikan Palapa Ring.

Artinya pemakai internet bertambah banyak, jadi kesempatan baik untuk memperkuat bisnis dan infrastruktur pusat data di tanah air.

"Namun dengan PP PSTE yang baru membuat semua data bebas disimpan keluar negeri. Mungkin maksud pemerintah adalah agar adopsi teknologi bisa berjalan cepat. Namun perlu dipikirkan jangka panjangnya bila membahayakan kedaulatan informasi," kata Pratama.



Baik Pratama maupun Heru sama-sama menilai bahwa perlu ada evaluasi terhadap PP PSTE yang baru ini. Dari sisi hukum, Pratama mengatakan masih ada melakukan judicial review lewah Mahkamah Agung (MA).

Heru mengatakan kalau mau melakukan revisi juga bisa dilakukan dengan cepat.

"Menkominfo nya baru dan juga Menko Polhukam baru, perlu ada upaya kembali evaluasi PP baru ini Kalau revisi juga mudah cepat. Hanya kembalikan ketentuan kewajiban data center di indonesia sesuai PP sebelumnya Nomor 82 Tahun 2012," kata Heru.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191108152910-185-446726/pp-pste-titipan-asing-yang-gadai-kedaulatan-data-indonesia
Share:

Mengenal Kamera HP Resolusi Terbesar di Dunia, 108 MP

Mengenal Kamera HP Resolusi Terbesar di Dunia, 108 MP Ilustrasi kamera ponsel. (FirmBee/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ponsel dengan sensor kamera yang tinggi saat ini mulai jadi andalan produsen untuk menarik perhatian pasar. Tak lama setelah sensor 64 Megapiksel (MP), kini muncul pula kamera dengan sensor 108 MP. 

Untuk menghadirkan kamera dengan megapiksel besar, dibutuhkan sensor yang dapat mendukung kamera tersebut. Samsung ISOCELL Bright HMX merupakan yang pertama dan masih satu-satunya sensor yang mendukung kamera 108 MP. 

Sensor buatan Samsung ini menggunakan teknologi Tetracell. Piksel dibuat menjadi empat kesatuan besar yang masing-masing berfungsi untuk mendeteksi cahaya merah, biru, dan hijau. 

Keempat piksel tersebut kemudian yang menghasilkan gambar 27 MP pada cahaya yang sedikit. Tetracell ini lah yang membuat sensor dapat meniru sensor yang lebih besar. 

Jika lingkungan didukung dengan cahaya yang optimal, kamera mampu menghasilkan gambar 108 MP. "Algoritma remosaik membuat foto 108Mp lebih detail di siang hari," tulis Samsung. 



Selain Tetracell, HMX juga didukung dengan teknologi Smart-ISO yang mampu menghasilkan gambar-gambar yang terang dalam ISO yang rendah. Menggunakan ISO tinggi juga bisa membantu mengurangi noise pada hasil gambar.

Dilansir dari BBC, sensor kamera yang besar menghasilkan gambar beresolusi besar yang harus diproses oleh sensor yang sangat kecil. 

Kondisi tersebut bisa menyebabkan resiko crosstalk, yakni gangguan yang disebabkan aliran listrik karena jarak komponen yang berdekatan. Hal ini bisa menyebabkan hasil gambar yang noise. 

Namun Samsung mengatasinya dengan membuat ukuran sensor yang lebih besar dari sensor pada umumnya. Dengan ukuran 1/1,33 inci, Bright HMX dapat menyerap lebih banyak cahaya walau dalam kondisi dengan pencahayaan yang buruk.


Hal yang perlu dipertimbangkan ketika membeli ponsel dengan sensor kamera yang yaitu membutuhkan penyimpanan yang lebih besar dari ponsel biasanya. 

Xiaomi merupakan yang pertama dalam mengadopsi sensor ini pada ponsel Mi CC9 Pro atu Mi Note 10 untuk sebutan versi global. Ponsel ini dirilis pada Rabu (6/11) di Spanyol. Selain dengan sensor utama 108 MP, ponsel ini juga memiliki 5 kamera atau dikenal juga dengan sebutan penta camera. 

Dilansir dari Digital Trends, Samsung sebagai produsen sensor tersebut juga tak mau kalah. Samsung kini dikabarkan sedang mengerjakan sensor HMX generasi kedua untuk ponsel flagshipnya Galaxy S11 untuk 2020 mendatang.                                                                                                                                                                                                                                                                                             Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191108171603-185-446721/mengenal-kamera-hp-resolusi-terbesar-di-dunia-108-mp
Share:

Giliran Pengguna Instagram di AS Tak Bisa Lihat Jumlah Likes

Giliran Pengguna Instagram di AS Tak Bisa Lihat Jumlah Likes Instagram menyatakan akan menguji coba menghilangkan jumlah likes di Amerika Serikat. (CNN Indonesia/Harvey Darian)
 Bos Instagram Adam Mosseri pada Jumat (8/11) menyatakan bahwa uji coba menghilangkan jumlah likes di media sosial tersebut akan menyebar ke Amerika Serikat.

"Perhatian! Tahun ini kami tengah mengetes tombol likes Instagram lebih tersembunyi di beberapa negara," kata Mosseri lewat cuitan.

"Kami akan menyebarkan uji coba itu pada sebagian kecil pengguna di Amerika Serikat mulai pekan depan."


Pada September, Facebook sebagai pemilik Instagram mengonfirmasi bahwa mereka mempertimbangkan untuk tidak memperlihatkan jumlah likes pada suatu unggahan.

Mereka berharap para pengguna tidak lagi tertekan untuk mengoleksi jumlah likes menggunakan gambar, video, atau komentar dan lebih berfokus pada hal-hal yang diunggah.

Instagram juga mengatakan uji coba ini telah berlangsung pada lebih dari selusin negara, dengan para pemilik akun masih bisa melihat jumlah likes secara privat sementara publik tidak.

Twitter juga pernah bereksperimen dengan menyembunyikan jumlah cuitan disukai (liked) atau dibagikan ulang (retweet), menurut kepala pengembangan produk Kayvon Beykpour.

Twitter menemukan bahwa orang-orang kurang tertarik berinteraksi di media sosial itu ketika tidak bisa melihat jumlah retweet dan likes.

"Ketika Anda menghilangkan indikator interaksi, orang-orang akan semakin minim berinteraksi," kata Bekpour awal tahun ini.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191109134326-185-446886/giliran-pengguna-instagram-di-as-tak-bisa-lihat-jumlah-likes
Share:

Baru Luncurkan 5G, China 'Tancap Gas' Teliti 6G

Baru Luncurkan 5G, China 'Tancap Gas' Teliti 6G Ilustrasi (Aditya Panji)
 China mengumumkan akan melakukan penelitian jaringan 6G. Sebelumnya, mereka berencana untuk meluncurkan penelitian jaringan 6G pada 2020. Padahal negara ini baru saja mengumumkan meluncurkan jaringan 5G mereka awal bulan ini.

Pengumuman ini makin memperuncing persaingan teknologi negara ini dengan Amerika Serikat. Sejumlah kementerian di pemerintahan dan institusi penelitian telah membuat kelompok penelitian dan pengembangan teknologi nasional. Hal ini merujuk pada pernyataan dari Kementerian Teknologi dan Sains China yang dipublikasikan, Rabu (6/11).

Kelompok penelitian ini terdiri dari departemen pemerintahan yang bertanggung jawab atas pengembangan 6G. Tim lain dibentuk dari perwakilan 37 universitas, institusi penelitian, dan perusahaan yang akan menjadi penasihat dan mengurusi sisi teknis pelaksanaan 6G, seperti dilaporkan CNBC.



Sebelumnya, pemerintah China berharap bisa mulai menggelar 5G pada akhir 2018. Selain itu ia berharap jaringan komersil itu siap sebelum akhir 2020. Padahal China tergolong terlambat meluncur di China. Tapi saat ini negara tersebut termasuk menjadi pemimpin dalam peluncuran jaringan 5G, seperti ditulis Tech Radar.

Jaringan 5G digadang-gadang akan menjadi landasan bagi digelarnya teknologi mobil pintar dan virtual reality.

Saat ini China telah menjadi pemilik jaringan 5G terbesar di duinia. Huawei yang menjadi salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar China juga menjadi salah satu pemain utama di industri perangkat telekomunikasi 5G.

Di sisi lain, perangkat telekomunikasi 5G menjadi salah satu sumber ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China. AS sendiri telah menjegal Huawei di negara itu dengan isu keamanan.


Presiden AS Donald Trump sempat mendeklarasikan agar AS menjadi pemimpin teknologi 6G. Ia menekankan agar negara itu tidak tertinggal dalam teknologi ini.

Namun, hingga saat ini masih belum ada kesepakatan soal jaringan yang akan digunakan pada jaringan 6G ini.

Persaingan untuk menguasai jaringan 6G tampaknya makin ketat. Sebab, Samsung pun sudah mulai melakukan penelitian jaringan 5G di Korea Selatan.

Sementara itu di Finlandia, proyek pengembangan 6G juga sudah dimulai. Proyek ini dinamakan 6Genesis dan menelan biaya hingga Rp3,8 triliun (251 juta euro).

Menurut pimpinan proyek tersebut, teknologi 6G akan memenuhi kebutuhan kapasitas dan latensi yang dijanjikan 5G. Sebab teknologi ini memiliki arsitektur yang berbeda. Jaringan ini bisa disisipi kecerdasan buatan dan bisa memberi kecepatan koneksi hingga 1 Tbps.                                                                                                                                                                                                                     Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191108190852-185-446755/baru-luncurkan-5g-china-tancap-gas-teliti-6g
Share:

Cara Deteksi Ponsel yang Terjangkit Spyware

Cara Deteksi Ponsel yang Terjangkit Spyware Ilustrasi ponsel. (Freestocks).
 Teknologi keamanan pada ponsel saat ini terbilang canggih dan mumpuni. Namun setiap orang tetap berpotensi ponsel dimata-matai oleh pihak lain. Malware pengintai atau biasa dikenal spyware dapat dengan mudah dipasang tanpa sepengetahuan pemilik ponsel.

Beberapa waktu lalu, Facebook telah menggugat NSO Group atas tuduhan menyalahgunakan spyware Pegasus untuk meretas ponsel milik 1.400 orang melalui panggilan telepon WhatsApp. Serangan spyware tersebut diduga mengincar sejumlah jurnalis, pengacara, aktivis hak asasi manusia (HAM), hingga politikus.

Terdapat sejumlah tanda yang dapat dicurigai ketika ada Spyware yang terpasang di ponsel Anda.


Sering mendapat pesan yang tidak jelas
Malware membutuhkan akses secara fisik untuk dapat terpasang pada ponsel. Biasanya para peretas akan mengirimkan pesan yang mencurigakan hingga tautan melalui SMS, media sosial, hingga email. Sebisa mungkin jangan membuka tautan tersebut dan segera menghapusnya.

Penggunaan data yang tidak normal
Jika tiba-tiba penggunaan data internet Anda melebihi sewajarnya, bisa jadi terdapat spyware yang terpasang pada ponsel Anda. Perangkat lunak spyware akan mengumpulkan dan mengirim data-data ponsel Anda. Namun kondisi tersebut hanya terjadi pada spyware dengan kualiatas rendah. Sementara yang memiliki kualitas tinggi cenderung menggunakan data yang lebih sedikit dan tak terdeteksi.



Terdengar suara yang janggal saat sedang menelepon
Suara-suara aneh selama melakukan panggilan telepon biasanya akan terdengar jika ponsel sedang diawasi. Misalnya seperti bunyi klik atau bunyi-bunyi yang mengganggu panggilan.

Baterai sering cepat drop dan panas meski sedang tidak dipakai
Kondisi ini juga perlu diwaspadai, apalagi jika Anda menggunakan ponsel yang terbilang masih baru. Spyware bekerja dengan mengumpulkan data dari ponsel sehingga baterai ponsel akan menjadi lebih boros.


Jika tanda-tanda tersebut terjadi, Anda perlu melakukan cara lain untuk memastikan apa benar ponsel Anda terjangkit malware.

Jika ponsel Anda Android :

Cara ini sebenarnya tidak menjamin malware atau spyware yang terpasang akan muncul. Namun tidak ada salahnya jika dilakukan.

Caranya dengan membuka Settings -> Apps -> Menu -> Special Access-> Install unknown apps.

Jika muncul nama-nama aplikasi yang tidak dikenal dan mencurigakan, ada baiknya Anda mencari tahu penjelasan aplikasi tersebut di internet sebelum memutuskan untuk mengapusnya atau tidak.



Jika ponsel Anda iOS :


Perangkat iOS sebenarnya sangat sulit untuk menjadi target malware, kecuali sebelumnya perangkat tersebut telah di-jailbreak.

Terdapat aplikasi bernama mSpy yang legal dan tersedia di AppStore serta dapat bekerja pada ponsel yang tidak di-jailbreak. Aplikasi ini ditujukan bagi orang tua untuk memantau penggunaan gawai pada anaknya.

Hal yang dibutuhkan untuk menggunakan aplikasi tersebut hanya akses ke akun iCloud Anda. Dengan demikian, cara yang dapat dilakukan untuk menghapus akses tersebut dengan mengganti password iCloud Anda.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191107192129-185-446457/cara-deteksi-ponsel-yang-terjangkit-spyware
Share:

Adu Kencang Jaringan 6G, dari China Hingga Finlandia

Adu Kencang Jaringan 6G, dari China Hingga Finlandia Ilustrasi jaringan 6G. (CNN Indonesia/Jonathan Patrick)
 Implementasi konektivitas 5G belum sepenuhnya diadopsi. Saat ini baru Korea Selatan dan China yang resmi menggelar 5G. Walau sebelumnya Amerika Serikat sempat digadang-gadang menjadi negara pertama yang mengadopsi jaringan itu.

Saat ini, diketahui setidaknya ada empat negara yang mulai melakukan studi terkait pengembangan jaringan nirkabel 6G, yaitu Korea Selatan, China, Finlandia, dan Amerika Serikat.

Meski belum mengimplementasikan 5G, Presiden Donald Trump melalui cuitan di akun Twitter pribadinya mengatakan bakal segera menerapkan jaringan 5G bahkan 6G.


"Saya ingin 5G bahkan 6G untuk segera diimplementasikan di Amerika Serikat. Perusahaan-perusahaan Amerika harus meningkatkan kinerja mereka agar tidak tertinggal," cuit Trump @realDonaldTrump pada 21 Februari lalu.

Jurnalis The Verge sempat meminta komentar kepada perwakilan Industri Komunikasi Nirkabel AS (CTIA) mengenai cuitan Trump itu. Namun, pihak CTIA tidak memberikan jawaban pasti.

"Dukungan pemerintah sangat mempengaruhi industri nirkabel untuk dapat membawa jaringan 5G segera ke Amerika," tuturnya.



Beralih ke Korea Selatan, salah satu lembaga penelitian negeri ginseng itu pada 12 Juni lalu telah menandatangani nota kesepahaman dengan Universitas Oulu asal Finlandia.

Penandatangan dilakukan untuk melakukan studi bersama terkait jaringan 6G. Dilansir portal berita Korsel, kerja sama kedua negara terjadi saat Presiden Moon Jae In melakukan lawatan ke Finlandia.

"Korea Selatan merupakan negara pertama di dunia yang mengkomersilkan layanan seluler 5G dan Finlandia yang menjadi ujung tombak penelitian 6G," tutur Moon.

Di dalam perjanjian itu terungkap bahwa Universitas Oulu Finlandia bakal menggelontorkan dana sekitar 30 miliar won atau US$25,4 juta untuk menggelar proyek 6G.

Sementara itu, salah satu operator telekomunikasi Korsel, SK Telecom telah menggandeng dua vendor ponsel yaitu Nokia dan Ericsson untuk melakukan penelitian dan pengembangan jaringan nirkabel 6G.


SK Telecom akan membuat serangkaian persyaraatan membangun dan mengauntentifikasi teknologi dari jaringan nirkabel 6G.

Selain Ericsson dan Nokia, Samsung menyatakan akan mengadakan penelitian jaringan 6G. Untuk mendukung upaya tersebut, perusahaan asal Korea Selatan ini telah memperluas tim riset telekomunikasi dan membentuk grup bernama Advanced Research Center yang berkantor di Seoul, Korea Selatan.

Hari ini (8/11), Kementerian Sains dan Teknologi China menyatakan pihaknya bakal memulai studi untuk pengembangan konektivitas 6G dengan membentuk dua kelompok kerja.

Dilansir CNBC, nantinya satu kelompok terdiri dari anggota pemerintahan yang bertanggung jawab untuk mempromosikan bagaimana penelitian dan pengembangan 6G akan dilakukan.

Sementara satu tim lain, anggotanya terdiri dari lembaga penelitian, perusahaan swasta dan 37 universitas yang bertugas untuk memaparkan sisi teknis 6G dan menyusun rekomendasi.

"Teknologi 6G masih dalam tahap awal, teknisnya masih belum jelas bahkan skenario standarisasi frekuensinya juga belum ditetapkan," kata Wakil Menteri Sains dan Teknologi, Wang Xi.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191108205009-185-446801/adu-kencang-jaringan-6g-dari-china-hingga-finlandia
Share:

Bimbel Konvensional di Tengah 'Gempuran' Bimbel Online

 Ilustrasi bimbel online. (dhester/morgueFile)
 Penetrasi internet di Indonesia telah mencapai lebih dari 160 juta orang. Penetrasi ini juga berpengaruh terhadap beberapa aspek dalam berbagai sektor, termasuk sektor pendidikan hingga bimbingan belajar (bimbel).

Menjamurnya perusahaan rintisan (startup) pendidikan atau bimbel online merupakan penanda dampak penetrasi digital. Siswa dapat memahami pelajaran di sekolah melalui perangkat teknologi seperti laptop dan ponsel.

Sistem pembelajarannya pun bermacam-macam, salah satunya dengan menggunakan aplikasi belajar yang bisa diunduh secara gratis. Tentu bimbel online menawarkan bimbingan belajar online yang tak gratis.


Di dalam aplikasi bimbel online tersebut memuat ribuan konten video belajar yang langsung dijelaskan oleh guru. Selain itu, terdapat pula kuis soal-soal untuk menguji kemampuan diri serta hasil akhir berupa rapor online.


Ruangguru misalnya, menawarkan tarif dari Rp790 ribu hingga Rp1,4 juta untuk paket Ruanglesonline (tempat bertanya dengan tutor secara personal) dan Ruangbelajar (pake video, kuis, latihan soal dan modul bimbel). Harga tersebut tergantung durasi paket serta tergantung jenjang pendidikan.

Selain Ruangguru, ada juga Quipper yang menawarkan harga dari Rp540 ribu hingga Rp1 juta. Zenius menawarkan paket yang berdasarkan durasi paket mulai dari Rp165 ribu hingga Rp440 ribu.

Jika dibandingkan dengan bimbel konvensional seperti Ganesha Operation, Nurul Fikri, Inten, Salemba Group hingga Sony Sugema College, tentu harga yang ditawarkan bimbel online sangat menggiurkan.

Harga bimbel konvensional cukup bervariatif, dari rentang Rp4,9 juta hingga RP 19,5 juta untuk paket SMA selama satu tahun. Di sisi lain, jenjang tarif bimbel online untuk jenjang SMA plus paket UN dan SBMPTN selama satu tahun  dimulai dari harga Rp790 ribu hingga RP1,4 juta.

Kendati demikian, harga bimbel online yang murah tidak sekonyong-konyong akan menghapus bimbel konvensional. Hal tersebut disampaikan oleh pengamat pendidikan Doni Koesoema, baginya bimbel online merupakan sebuah tren yang tak bisa dihalangi sebagai dampak kemajuan teknologi.

Dengan harga yang lebih mahal dari bimbel online, bimbel konvensional masih menjadi pilihan. Bimbel konvensional masih menjadi pilihan selama kualitas guru yang ditawarkan bisa membantu anak mendapatkan nilai terbaik di sekolah.

"Bimbingan reguler non aplikasi memang menjamur dan biaya tergantung. Namun, mahal atau tidak, itu relatif. Mahal tapi efektif, pasti orang tua juga akan membelinya," kata Doni saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (7/11).


Doni mengatakan yang murah belum tentu efektif. Kedua bimbel memang membantu siswa untuk meningkatkan nilai terbaik. Akan tetapi,  menurut Doni yang keliru adalah membuat citra bahwa dengan bimbel online siswa akan berprestasi. Kesimpulan ini disebutnya terlalu tergesa-gesa dan tanpa bukti yang jelas.

Padahal keberhasilan peningkatan nilai oleh bimbel tergantung pada siswa itu sendiri, ditambah dengan kualitas guru bimbel. Menurut Doni, bimbel online di tangan anak yang rajin dan mau belajar akan menjadi alat efektif.

"Tapi di tangan anak yg malas dan manipulatif, aplikasi bimbel online hanya dipakai mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah dengan tanya kepada pembimbingnya. Anaknya sendiri tidak belajar, makna belajar adalah kemandirian," kata Doni.

Doni mengatakan bimbel online tidak menjamin memiliki guru-guru berkualitas, begitu pun sebaliknya. Oleh karena itu ia meminta agar jangan sampai terjadi generalisir kualitas guru di bimbel online.

Kualitas guru ini yang akan membuat orang tua rela merogoh kocek dalam demi buah hatinya. Ia menjelaskan  sayangnya ada orang tua yang asal memilihkan bimbel konvensional tanpa tahu kualitas pengajarnya.

"Meski bayar mahal, orang tua masih memilih mempercayakan anak-anaknya pada sosok guru yg baik, menjadi teladan, dengan demikian, urusannya bukan sekadar bimbel, tapi pendidikan karakter," tuturnya.


Menyoal konsep bimbel online yang hanya terjadi di ruang maya, baik itu video maupun video call interaktif, Doni membahas soal pendidikan karakter. Kemampuan soft skill tentu lebih terasah dengan adanya diskusi hingga interaksi di dunia nyata.

"Kalau orang tua ingin anaknya bisa mengobrol, diskusi, konsentrasi, dan mungkin dengan  berjumpa guru yang baik perilakunya berubah, mungkin memilih bimbel konvensional melalui guru-guru yang dikenal akan lebih mudah mencapai tujuan daripada dengan bimbel online,"kata Doni.

Di sisi lain, Pengamat Pendidikan Universitas Paramadina, Mohammad Abduhzen mengatakan bimbel online memang menawarkan bimbel yang lebih bebas, efisien dan mandiri. Di sisi lain, konvensional memang lebih terikat, dan kurang efisien dari segi waktu.

Akan tetapi, dari segi efektivitas hasil dari bimbel, Abduhzen mengatakan bimbel konvensional lebih unggul karena menawarkan proses belajar-mengajar di ruang kelas nyata, bukan virtual. Interaksi antara guru dengan siswa dianggap lebih efektif untuk membuat siswa mengerti soal pelajaran.

"Lebih efektif bimbel konvensional. Online positifnya lebih bebas, fleksibel, dan mandiri. Konvensional lebih terikat, terbatas, dan kurang efisien dari sisi waktu," kata Abduhzen.

CNNIndonesia.com telah menghubungi Inten, Ganesha Operations, dan Sony Sugema College agar memberikan data jumlah siswa dan pendapatan dari 2016 hingga 2019 untuk melihat dampak bimbel online terhadap bimbel konvensional.

Akan tetapi ketiga bimbel  menolak untuk memberikan data-data tersebut. Mereka beralasan data-data tersebut tidak dipublikasikan karena bersifat internal.


Platform Bimbel Online Pemerintah

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sesungguhnya memiliki portal belajar online, yaitu Rumah Belajar. Rumah belajar telah disiapkan oleh pemerintah sejak 2011, tapi tidak digarap dengan serius.

Doni mengatakan Rumah Belajar harus menjadi perhatian pemerintah untuk membantu seluruh siswa agar bisa merasakan bimbel online. Belum lagi mengingat dengan adanya proyek infrastruktur kabel optik Palapa Ring yang mendukung konektivitas internet merata di seluruh pelosok Indonesia.

Demi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, Doni memberi pesan kepada Mendikbud Nadiem Makarim untuk bisa mengembangkan Rumah Belajar agar menjadi platform belajar digital.

Ia berharap agar Nadiem bisa memastikan bahwa layanan tersebut bisa diakses guru dan siswa Indonesia secara gratis sebagai salah satu tempat belajar.

"Pemerintah mesti ikut bermain di e-learning yang dapat diakses oleh semua anak Indonesia. Bukan untuk menyaingi e-learning swasta berbayar. Dengan platform ini kualitas pendidikan akan meningkat cepat," katanya.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191107205214-185-446514/bimbel-konvensional-di-tengah-gempuran-bimbel-online
Share:

Recent Posts