Whatsapp Boyong Fitur Katalog untuk Permudah Susun Produk

Whatsapp Boyong Fitur Katalog untuk Permudah Susun Produk Ilustrasi WhatsApp. (CNN Indonesia/Safir Makki).
 Layanan aplikasi WhatsApp Business meluncurkan fitur katalog Jumat (8/11) hari ini, yang memungkinkan para pebisnis untuk menyusun berbagai jenis produk mereka secara berurutan.

Dilansir dari blog resmi WhatsApp, fitur ini hadir untuk memudahkan konsumen menemukan produk yang ingin mereka beli. Pasalnya, sebelum fitur katalog diluncurkan, pelaku bisnis harus mengirim satu per satu gambar produk ke akun WhatsApp Business mereka.

"Fitur katalog dapat memberikan kesan kepada para pelaku bisnis yang menggunakan layanan WhatsApp Business kami, terlihat lebih profesional dan interaktif dengan pelanggan mereka tanpa harus mengunjungi situs web untuk melihat produk," tulis Juru Bicara WhatsApp.


Lebih lanjut, aplikasi pesan instan milik Facebook itu mengatakan pelaku bisnis juga dapat menambahkan informasi produk mereka seperti harga, deskripsi, dan kode produk.


Pada awal peluncurannya, fitur katalog dalam aplikasi WhatsApp Business hanya tersedia di beberapa negara seperti Brasil, Jerman, India, Indonesia, Inggris, dan Amerika.

Namun, WhatsApp mengatakan bakal segera merilis fitur katalog secara world wide (ke seluruh dunia).

Sebelumnya, fitur katalog untuk WhatsApp Business telah diperkenalkan oleh pendiri sekaligus CEO Facebook, Mark Zuckerberg disela konferensi F8 pada April lalu di San Jose, California, AS.


Pada kesempatan yang berbeda, Director of Communication WhatsApp, Sravanthi Dev telah memastikan pihaknya akan memboyong fitur katalog untuk WhatsApp Business ke Indonesia.

"Katalog sedang kami garap, kami sudah mengatakan soal fitur ini di awal tahun tepatnya di Konferensi F8. Pastinya fitur katalog bakal hadir di Indonesia karena hampir semua orang yang saya temui menggunakan WhatsApp termasuk bisnis kecil di Indonesia," ujar Dev kepada awak media di Facebook Indonesia Summit 2019 pada Rabu, 16 Oktober lalu.

Sebelum resmi diluncurkan di Indonesia, WhatsApp juga sempat merilis fitur katalog versi beta dan hanya diperuntukan untuk beberapa pelaku bisnis.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191108120142-185-446617/whatsapp-boyong-fitur-katalog-untuk-permudah-susun-produk
Share:

Nettox, Jam Pintar Karya Anak Bangsa Tangkal Candu Gadget

Nettox, Jam Pintar Karya Anak Bangsa Tangkal Candu Gadget Nettox Watch (Screenshot via www.ui.ac.id).
 Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menciptakan gadget jam tangan pintar (smart watch) yang berfungsi untuk mengatasi masalah kecanduan internet. Alat yang dinamakan Nettox Watch itu dianggap akan menjadi solusi, khususnya bagi para remaja.

Dikutip dari ui.ac.id, Nettox Watch dapat mendeteksi tingkat penurunan variabilitas detak jantung dan mencatat waktu aktivitas internet pengguna secara langsung (real time). Dengan demikian, akan muncul peringatan jika terjadi penurunan kondisi kesehatan akibat penggunaan internet berlebihan.

Adapun, teknologi yang digunakan dalam Nettox Watch adalah terapi berbasis Biofeedback. Terapi itu menggunakan sinyal-sinyal biologis tubuh untuk memberi peringatan kesehatan kepada pengguna internet secara berlebihan, khususnya di ponsel.


Mahasiswa UI yang menciptakan alat tersebut antara lain, Irfan Budi Satria, Mahasiswa Teknik Elektro Fakultas Teknik, Nabila Ayu Budianti, Mahasiswa Biologi Fakultas MIPA, dan Alhuda Reza Mahara, Mahasiswa Teknik Komputer. Ketiga mahasiswa angkatan 2016 itu menciptakan smart watch di bawah bimbingan dosen Fakultas Teknik UI Eng Arief Udhiarto.


Menurut mereka, internet memiliki dampak negatif terhadap kesehatan, seperti penurunan variabilitas detak jantung (HRV).

"Inspirasi menciptakan alat itu datang dari perangkat wearable dengan sensor kesehatan yang kini semakin canggih, seperti Xiaomi Mi Band," ujar salah satu mahasiswa pencipta Nettox, Irfan Budi seperti dikutip dari ristekdikti.go.id.

Wearable Nettox ingin membawa teknologi ini semakin jauh. Salah satunya, menggunakan data dari sensor untuk mengindikasi bahwa pengguna mengalami penurunan kesehatan akibat penggunaan internet berlebihan atau tidak.

Pencipta telah membuat purwarupa Nettox Watch. Di dalam penggunaan jam tangan pintar ini akan berbeda pada masing-masing pengguna.


Pasalnya, mereka menambahkan fitur personalisasi berupa informasi kondisi fisik pengguna yang akan mempengaruhi bacaan variabilitas detak jantung. Selain itu, ada pula pilihan untuk menerima respons balik, seperti visual, auditori, atau kinestetik.

Kolaborasi para mahasiswa tersebut diharapkan dapat membantu remaja untuk mengontrol penggunaan internet mereka.

Sumber:https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191108131911-185-446632/nettox-jam-pintar-karya-anak-bangsa-tangkal-candu-gadget
Share:

Bahaya yang Mengintai Kalau Sering 'Gonta-ganti' Nomor HP

Bahaya yang Mengintai Kalau Sering 'Gonta-ganti' Nomor HP Ilustrasi (CNN Indonesia/Safir Makki)
 Jika Anda berniat untuk mengganti nomor handphone (hp) atau sengaja membiarkan nomor tak terpakai lagi hingga masa tenggang habis atau hangus, baiknya berhati-hati. Pastikan nomor ponsel tersebut sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengan akun-akun perbankan, email, atau media sosial Anda. Jangan sampai email Anda diretas, rekening dibobol, dan kartu kredit disalah gunakan oleh pihak yang tak bertanggung jawab.

Pasalnya, operator kerap menjual kembali nomor-nomor yang sudah tidak aktif kepada pengguna lain. Praktek daur ulang (recycle) nomor ponsel ini adalah hal yang lumrah dilakukan operator. Sehingga akan muncul risiko penyalahgunaan email, akun media sosial, atau akun perbankan, yang terhubung dengan nomor ponsel tersebut.

Hal ini diamini oleh Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC Pratama Persadha. Ia mengatakan praktik 'gonta-ganti' nomor ponsel merupakan hal yang biasa namun membuat mereka yang melakukan praktek ini berisiko kehilangan aset pribadi digital mereka.

Sebab, ketika nomor tersebut hangus dan kemudian digunakan oleh pengguna baru, potensi disalahgunakannya pun cukup besar.


"Ketika nomor hangus lalu digunakan pengguna baru untuk registrasi atau verifikasi layanan yang juga digunakan oleh pengguna sebelumnya. Hal tersebut yang kemungkinan dimanfaatkan oleh pengguna baru untuk mengakuisisi aset digital," kata Pratama saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (8/11).

Oleh karena itu ada beberapa hal yang patut Anda waspadai ketika memutuskan untuk tidak lagi menggunakan nomor ponsel tertentu.

1. Email bisa dibajak

Saat ini penyedia layanan email populer seperti Gmail dan Yahoo selalu meminta pengguna untuk menyertakan nomor ponsel mereka saat membuat akun email.

Nomor ponsel ini kerap digunakan penyedia email sebagai pelengkap proses autentikasi dua faktor jika pengguna lupa kata kunci mereka. Kode OTP (one time password) yang dikirim via SMS adalah salah satu bentuk autentikasi ini.

"Setelah aset pribadi seperti email dapat diambil alih maka bisa diketahui history dari email yang masuk," jelas Pratama.

Hal ini sangat krusial. Dengan nomor telepon lawas itu, orang lain bisa membuat kata kunci baru untuk masuk ke email korban. Ia bisa meminta penyedia email untuk mengirimkan tautan perbaruan kata sandi lewat nomor ponsel yang ia pegang.


2. Akun media sosial pindah tangan

Akun media sosial juga bisa berpindah kendali. Caranya serupa dengan autentikasi dua faktor seperti membobol email.

3. Akun finansial terancam dikuras

Akun finansial seperti kartu kredit, dompet digital, akun marketplace, serta akun terkait keuangan lain pun diambang bahaya.

Pasalnya akun-akun ini kerap menggunakan nomor telepon juga untuk melindungi akun penggunanya. Lagi-lagi menggunakan metoda autentikasi dua faktor.

Cara aman ganti nomor HP

Untuk itu perlu diperhatikan hal-hal berikut ketika Anda akan berganti nomor HP atau memutuskan membiarkan nomor tertentu hangus lantaran tak lagi ingin menggunakan nomor itu.

1. Pastikan nomor ponsel tak lagi digunakan sebagai nomor verifikasi kode OTP

Pengamat keamanan siber dari Vaksin.com, Alfons Tanujaya menyarankan agar pengguna mengganti nomor yang digunakan untuk autentikasi dua faktor atau otentikasi dua faktor.

"Kalau mau pindah tangan atau ganti nomor harus pastikan semua TFA [two factor authentication] sudah diganti nomornya. Caranya dengan menghubungi penyedia kartu kredit dan bank tempat buka akun," kata Alfons.

Lebih lanjut kata Alfons, merujuk pada kasus tersebut, operator seluler bakal 'lepas tangan' karena mereka hanya penyedia jaringan.

Kecuali, ketika ditemukan ada kartu yang dipalsukan maka operator bisa dimintai pertanggungjawaban.

2. Pastikan nomor ponsel tak lagi terhubung dengan aplikasi apapun

Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC Pratama Persadha menghimbau kepada masyarakat untuk memastikan nomor lama mereka tidak terhubung dengan akun di sejumlah platform digital seperti media sosial, email, perbankan, ecommerce dan lainnya.

"Ketika akan berganti nomor sebaiknya perlu dipertimbangkan untung ruginya dan berhati-hati. Pastikan bahwa nomor yang akan diganti tidak terhubung dengan layanan lain seperti media sosial, email, akun perbankan, e-commerce dan seterusnya," tuturnya.

"Dengan kata lain verifikasi atau otentikasi pada layanan-layanan tersebut diarahkan ke nomor baru," pungkas Pratama.

3. Pastikan nomor telepon tidak terhubung dengan bank dan layanan fintech

GM External Corporate Communications Telkomsel Aldin Hasyim juga menyarankan agar nomor telepon pengguna tidak lagi terhubung dengan akun bank atau penyedia layanan fintech seperti Ovo, Gopay, LinkAja, atau Dana.

Ia pun menyarankan pengguna untuk menghentikan layanan tersebut saat melakukan penggantian nomor telepon.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191108154210-185-446711/bahaya-yang-mengintai-kalau-sering-gonta-ganti-nomor-hp
Share:

PP PSTE, 'Titipan' Asing yang Gadai Kedaulatan Data Indonesia


PP PSTE, 'Titipan' Asing yang Gadai Kedaulatan Data Indonesia Ilustrasi. (LoboStudioHamburg/Pixabay).
 Kredibilitas pidato Presiden Joko Widodo soal menjaga kedaulatan data nasional pada 16 Agustus dan 14 Oktober 2019 dipertanyakan banyak kalangan.

Bukan tanpa sebab, pengesahan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PSTE) dianggap bertolak belakang dengan komitmen kepala negara.

Berdasarkan situs Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Kementerian Sekretariat Negara, beleid yang merupakan revisi dari PP Nomor 82 Tahun 2012 itu telah ditetapkan pada 4 Oktober 2019 dan diundangkan pada 10 Oktober 2019. Waktu penetapan itu menunjukkan pernyataan Jokowi soal kedaulatan data sulit dipertanggungjawabkan.


Dalam revisi beleid PSTE terbaru, pemerintah justru mengizinkan penempatan pusat data di luar negeri. Secara rinci disebutkan pada Pasal 21 Ayat 1, yakni "Penyelenggara sistem elektronik lingkup privat dapat melakukan pengelolaan, pemrosesan, dan/atau penyimpanan sistem elektronik dan data elektronik di wilayah Indonesia dan/atau di luar wilayah Indonesia".


Hanya data dengan klasifikasi tertentu yang wajib disimpan di dalam negeri. Nantinya, aturan soal klasifikasi jenis data dan ketentuan penyimpanan bakal diatur dalam Peraturan Menteri. Hal ini seperti tertuang dalam pasal 20 ayat 6 dan 7 PP PSTE.

Sebelum direvisi, pasal 21 ayat 1 berbunyi "Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menampilkan kembali informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik secara utuh sesuai dengan format dan masa retensi yang ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan".

Sontak saja, pengesahan revisi aturan itu memunculkan suara-suara sumbang. Anggota Komisi I DPR RI Sukamta bahkan khawatir Jokowi tidak mengetahui isi aturan yang ditandatanganinya tersebut.

Di depan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Johnny G Plate, Sukamta menegaskan pengesahan PSTE berlawanan dengan kedaulatan data Indonesia yang disampaikan dalam pidato Jokowi.


"Berarti pak pertanyaannya kan begini, presiden ini bicara tidak tahu yang dibicarakan, atau tanda tangan peraturan tidak tahu yang ditandatangani, atau sebetulnya maunya pak presiden diterjemahkan begitu," kata Sukamta saat Rapat Dengar Pendapat dengan Menteri Johnny di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (5/11).

Dalam pidato 16 Agustus dan peresmian Palapa Ring Oktober lalu, Jokowi secara khusus menyinggung soal data pribadi. Menurutnya, data merupakan komoditas atau jenis kekayaan yang baru atau 'the new oil' dan perlu dijaga kedaulatannya.

Jokowi menekankan tidak ada lagi data yang tidak strategis bagi bangsa Indonesia. Seluruhnya dianggap penting untuk menjaga kedaulatan data Indonesia.

Pidato tersebut tentu berlawanan dengan kebijakan klasifikasi data sesuai risiko pada Pasal 20 ayat 6.


"Bahkan beliau menekankan bahwa data-data penduduk Indonesia bukan hanya data strategis pemerintah, termasuk data konsumsi, data pola hidup bangsa Indonesia. Itu tidak boleh jatuh ke tangan asing," kata Sukamta.

Pengamat teknologi informatika sekaligus Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai kepala negara mungkin saja mengetahui isi dari PP PSTE. Kendati demikian, Heru menuding para pembantu Jokowi yang berusaha menjerumuskan presiden.

"Kalau pidato pasti presiden sangat mengerti. Penjelasan mengenai isi PP mungkin bisa belok, karena Pak Jokowi clear crystal menyampaikan soal kedaulatan data. Jangan sampai data masyarakat, selera konsumen dan pasar diketahui negara lain. Ini kan artinya pusat data harus di Indonesia," kata Heru.

Seluruh data yang ditulis, dikelola, diproses dan disimpan harus ada di Indonesia. Jokowi sudah jelas menyatakan kedaulatan data pada 16 Agustus dan 14 Oktober.

Heru menduga pejabat tinggi yang menyusun PP mendapat titipan bahkan tekanan dari pihak asing.


"Dari zaman PP 82 yang keras menentang kan asing. Pejabat tinggi yang menyusun PP ini mendapat titipan atau tekanan asing," kata Heru.

Dengan kehadiran PP ini, pemerintah seolah berusaha melakukan 'barter' dengan Amerika Serikat (AS) terkait pelonggaran Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) dan pengadaan pusat data demi memperoleh insentif tarif Generalized Systems of Preference (GSP).

"Tidak direct (menyebut) ke negara atau kawasan tapi platform atau yang dikenal dengan Over The Top, tapi ketika ada semacam potensi gangguan terhadap platform tersebut, maka negara dari mana platform berasal ikut melibatkan diri," ujar Heru.

Pratama Persadha, Pengamat Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) sekaligus Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC mengaku kecewa karena pengesahan PP PSTE sangat kontradiktif dengan isi pidato Jokowi soal kedaulatan data.

"PP PSTE yang baru memang kontradiktif dengan keinginan untuk membangun pusat data yang reliable di tanah air. Apalagi boleh untuk memakai pusat data di luar negeri bagi para pelaku bisnis di tanah air," tutur Pratama.


Pratama mengatakan di era perang data saat ini, pusat data menjadi hal yang sangat krusial. Ia setuju agar pemerintah menentukan klasifikasi data agar tidak disimpan di luar negeri.

Padahal, menurut Pratama, kewajiban membangun data center di dalam negeri sangat sesuai dengan keberhasilan pemerintah Jokowi dalam menyelesaikan Palapa Ring.

Artinya pemakai internet bertambah banyak, jadi kesempatan baik untuk memperkuat bisnis dan infrastruktur pusat data di tanah air.

"Namun dengan PP PSTE yang baru membuat semua data bebas disimpan keluar negeri. Mungkin maksud pemerintah adalah agar adopsi teknologi bisa berjalan cepat. Namun perlu dipikirkan jangka panjangnya bila membahayakan kedaulatan informasi," kata Pratama.



Baik Pratama maupun Heru sama-sama menilai bahwa perlu ada evaluasi terhadap PP PSTE yang baru ini. Dari sisi hukum, Pratama mengatakan masih ada melakukan judicial review lewah Mahkamah Agung (MA).

Heru mengatakan kalau mau melakukan revisi juga bisa dilakukan dengan cepat.

"Menkominfo nya baru dan juga Menko Polhukam baru, perlu ada upaya kembali evaluasi PP baru ini Kalau revisi juga mudah cepat. Hanya kembalikan ketentuan kewajiban data center di indonesia sesuai PP sebelumnya Nomor 82 Tahun 2012," kata Heru.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191108152910-185-446726/pp-pste-titipan-asing-yang-gadai-kedaulatan-data-indonesia
Share:

Mengenal Kamera HP Resolusi Terbesar di Dunia, 108 MP

Mengenal Kamera HP Resolusi Terbesar di Dunia, 108 MP Ilustrasi kamera ponsel. (FirmBee/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ponsel dengan sensor kamera yang tinggi saat ini mulai jadi andalan produsen untuk menarik perhatian pasar. Tak lama setelah sensor 64 Megapiksel (MP), kini muncul pula kamera dengan sensor 108 MP. 

Untuk menghadirkan kamera dengan megapiksel besar, dibutuhkan sensor yang dapat mendukung kamera tersebut. Samsung ISOCELL Bright HMX merupakan yang pertama dan masih satu-satunya sensor yang mendukung kamera 108 MP. 

Sensor buatan Samsung ini menggunakan teknologi Tetracell. Piksel dibuat menjadi empat kesatuan besar yang masing-masing berfungsi untuk mendeteksi cahaya merah, biru, dan hijau. 

Keempat piksel tersebut kemudian yang menghasilkan gambar 27 MP pada cahaya yang sedikit. Tetracell ini lah yang membuat sensor dapat meniru sensor yang lebih besar. 

Jika lingkungan didukung dengan cahaya yang optimal, kamera mampu menghasilkan gambar 108 MP. "Algoritma remosaik membuat foto 108Mp lebih detail di siang hari," tulis Samsung. 



Selain Tetracell, HMX juga didukung dengan teknologi Smart-ISO yang mampu menghasilkan gambar-gambar yang terang dalam ISO yang rendah. Menggunakan ISO tinggi juga bisa membantu mengurangi noise pada hasil gambar.

Dilansir dari BBC, sensor kamera yang besar menghasilkan gambar beresolusi besar yang harus diproses oleh sensor yang sangat kecil. 

Kondisi tersebut bisa menyebabkan resiko crosstalk, yakni gangguan yang disebabkan aliran listrik karena jarak komponen yang berdekatan. Hal ini bisa menyebabkan hasil gambar yang noise. 

Namun Samsung mengatasinya dengan membuat ukuran sensor yang lebih besar dari sensor pada umumnya. Dengan ukuran 1/1,33 inci, Bright HMX dapat menyerap lebih banyak cahaya walau dalam kondisi dengan pencahayaan yang buruk.


Hal yang perlu dipertimbangkan ketika membeli ponsel dengan sensor kamera yang yaitu membutuhkan penyimpanan yang lebih besar dari ponsel biasanya. 

Xiaomi merupakan yang pertama dalam mengadopsi sensor ini pada ponsel Mi CC9 Pro atu Mi Note 10 untuk sebutan versi global. Ponsel ini dirilis pada Rabu (6/11) di Spanyol. Selain dengan sensor utama 108 MP, ponsel ini juga memiliki 5 kamera atau dikenal juga dengan sebutan penta camera. 

Dilansir dari Digital Trends, Samsung sebagai produsen sensor tersebut juga tak mau kalah. Samsung kini dikabarkan sedang mengerjakan sensor HMX generasi kedua untuk ponsel flagshipnya Galaxy S11 untuk 2020 mendatang.                                                                                                                                                                                                                                                                                             Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191108171603-185-446721/mengenal-kamera-hp-resolusi-terbesar-di-dunia-108-mp
Share:

Giliran Pengguna Instagram di AS Tak Bisa Lihat Jumlah Likes

Giliran Pengguna Instagram di AS Tak Bisa Lihat Jumlah Likes Instagram menyatakan akan menguji coba menghilangkan jumlah likes di Amerika Serikat. (CNN Indonesia/Harvey Darian)
 Bos Instagram Adam Mosseri pada Jumat (8/11) menyatakan bahwa uji coba menghilangkan jumlah likes di media sosial tersebut akan menyebar ke Amerika Serikat.

"Perhatian! Tahun ini kami tengah mengetes tombol likes Instagram lebih tersembunyi di beberapa negara," kata Mosseri lewat cuitan.

"Kami akan menyebarkan uji coba itu pada sebagian kecil pengguna di Amerika Serikat mulai pekan depan."


Pada September, Facebook sebagai pemilik Instagram mengonfirmasi bahwa mereka mempertimbangkan untuk tidak memperlihatkan jumlah likes pada suatu unggahan.

Mereka berharap para pengguna tidak lagi tertekan untuk mengoleksi jumlah likes menggunakan gambar, video, atau komentar dan lebih berfokus pada hal-hal yang diunggah.

Instagram juga mengatakan uji coba ini telah berlangsung pada lebih dari selusin negara, dengan para pemilik akun masih bisa melihat jumlah likes secara privat sementara publik tidak.

Twitter juga pernah bereksperimen dengan menyembunyikan jumlah cuitan disukai (liked) atau dibagikan ulang (retweet), menurut kepala pengembangan produk Kayvon Beykpour.

Twitter menemukan bahwa orang-orang kurang tertarik berinteraksi di media sosial itu ketika tidak bisa melihat jumlah retweet dan likes.

"Ketika Anda menghilangkan indikator interaksi, orang-orang akan semakin minim berinteraksi," kata Bekpour awal tahun ini.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191109134326-185-446886/giliran-pengguna-instagram-di-as-tak-bisa-lihat-jumlah-likes
Share:

Baru Luncurkan 5G, China 'Tancap Gas' Teliti 6G

Baru Luncurkan 5G, China 'Tancap Gas' Teliti 6G Ilustrasi (Aditya Panji)
 China mengumumkan akan melakukan penelitian jaringan 6G. Sebelumnya, mereka berencana untuk meluncurkan penelitian jaringan 6G pada 2020. Padahal negara ini baru saja mengumumkan meluncurkan jaringan 5G mereka awal bulan ini.

Pengumuman ini makin memperuncing persaingan teknologi negara ini dengan Amerika Serikat. Sejumlah kementerian di pemerintahan dan institusi penelitian telah membuat kelompok penelitian dan pengembangan teknologi nasional. Hal ini merujuk pada pernyataan dari Kementerian Teknologi dan Sains China yang dipublikasikan, Rabu (6/11).

Kelompok penelitian ini terdiri dari departemen pemerintahan yang bertanggung jawab atas pengembangan 6G. Tim lain dibentuk dari perwakilan 37 universitas, institusi penelitian, dan perusahaan yang akan menjadi penasihat dan mengurusi sisi teknis pelaksanaan 6G, seperti dilaporkan CNBC.



Sebelumnya, pemerintah China berharap bisa mulai menggelar 5G pada akhir 2018. Selain itu ia berharap jaringan komersil itu siap sebelum akhir 2020. Padahal China tergolong terlambat meluncur di China. Tapi saat ini negara tersebut termasuk menjadi pemimpin dalam peluncuran jaringan 5G, seperti ditulis Tech Radar.

Jaringan 5G digadang-gadang akan menjadi landasan bagi digelarnya teknologi mobil pintar dan virtual reality.

Saat ini China telah menjadi pemilik jaringan 5G terbesar di duinia. Huawei yang menjadi salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar China juga menjadi salah satu pemain utama di industri perangkat telekomunikasi 5G.

Di sisi lain, perangkat telekomunikasi 5G menjadi salah satu sumber ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China. AS sendiri telah menjegal Huawei di negara itu dengan isu keamanan.


Presiden AS Donald Trump sempat mendeklarasikan agar AS menjadi pemimpin teknologi 6G. Ia menekankan agar negara itu tidak tertinggal dalam teknologi ini.

Namun, hingga saat ini masih belum ada kesepakatan soal jaringan yang akan digunakan pada jaringan 6G ini.

Persaingan untuk menguasai jaringan 6G tampaknya makin ketat. Sebab, Samsung pun sudah mulai melakukan penelitian jaringan 5G di Korea Selatan.

Sementara itu di Finlandia, proyek pengembangan 6G juga sudah dimulai. Proyek ini dinamakan 6Genesis dan menelan biaya hingga Rp3,8 triliun (251 juta euro).

Menurut pimpinan proyek tersebut, teknologi 6G akan memenuhi kebutuhan kapasitas dan latensi yang dijanjikan 5G. Sebab teknologi ini memiliki arsitektur yang berbeda. Jaringan ini bisa disisipi kecerdasan buatan dan bisa memberi kecepatan koneksi hingga 1 Tbps.                                                                                                                                                                                                                     Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191108190852-185-446755/baru-luncurkan-5g-china-tancap-gas-teliti-6g
Share:

Cara Deteksi Ponsel yang Terjangkit Spyware

Cara Deteksi Ponsel yang Terjangkit Spyware Ilustrasi ponsel. (Freestocks).
 Teknologi keamanan pada ponsel saat ini terbilang canggih dan mumpuni. Namun setiap orang tetap berpotensi ponsel dimata-matai oleh pihak lain. Malware pengintai atau biasa dikenal spyware dapat dengan mudah dipasang tanpa sepengetahuan pemilik ponsel.

Beberapa waktu lalu, Facebook telah menggugat NSO Group atas tuduhan menyalahgunakan spyware Pegasus untuk meretas ponsel milik 1.400 orang melalui panggilan telepon WhatsApp. Serangan spyware tersebut diduga mengincar sejumlah jurnalis, pengacara, aktivis hak asasi manusia (HAM), hingga politikus.

Terdapat sejumlah tanda yang dapat dicurigai ketika ada Spyware yang terpasang di ponsel Anda.


Sering mendapat pesan yang tidak jelas
Malware membutuhkan akses secara fisik untuk dapat terpasang pada ponsel. Biasanya para peretas akan mengirimkan pesan yang mencurigakan hingga tautan melalui SMS, media sosial, hingga email. Sebisa mungkin jangan membuka tautan tersebut dan segera menghapusnya.

Penggunaan data yang tidak normal
Jika tiba-tiba penggunaan data internet Anda melebihi sewajarnya, bisa jadi terdapat spyware yang terpasang pada ponsel Anda. Perangkat lunak spyware akan mengumpulkan dan mengirim data-data ponsel Anda. Namun kondisi tersebut hanya terjadi pada spyware dengan kualiatas rendah. Sementara yang memiliki kualitas tinggi cenderung menggunakan data yang lebih sedikit dan tak terdeteksi.



Terdengar suara yang janggal saat sedang menelepon
Suara-suara aneh selama melakukan panggilan telepon biasanya akan terdengar jika ponsel sedang diawasi. Misalnya seperti bunyi klik atau bunyi-bunyi yang mengganggu panggilan.

Baterai sering cepat drop dan panas meski sedang tidak dipakai
Kondisi ini juga perlu diwaspadai, apalagi jika Anda menggunakan ponsel yang terbilang masih baru. Spyware bekerja dengan mengumpulkan data dari ponsel sehingga baterai ponsel akan menjadi lebih boros.


Jika tanda-tanda tersebut terjadi, Anda perlu melakukan cara lain untuk memastikan apa benar ponsel Anda terjangkit malware.

Jika ponsel Anda Android :

Cara ini sebenarnya tidak menjamin malware atau spyware yang terpasang akan muncul. Namun tidak ada salahnya jika dilakukan.

Caranya dengan membuka Settings -> Apps -> Menu -> Special Access-> Install unknown apps.

Jika muncul nama-nama aplikasi yang tidak dikenal dan mencurigakan, ada baiknya Anda mencari tahu penjelasan aplikasi tersebut di internet sebelum memutuskan untuk mengapusnya atau tidak.



Jika ponsel Anda iOS :


Perangkat iOS sebenarnya sangat sulit untuk menjadi target malware, kecuali sebelumnya perangkat tersebut telah di-jailbreak.

Terdapat aplikasi bernama mSpy yang legal dan tersedia di AppStore serta dapat bekerja pada ponsel yang tidak di-jailbreak. Aplikasi ini ditujukan bagi orang tua untuk memantau penggunaan gawai pada anaknya.

Hal yang dibutuhkan untuk menggunakan aplikasi tersebut hanya akses ke akun iCloud Anda. Dengan demikian, cara yang dapat dilakukan untuk menghapus akses tersebut dengan mengganti password iCloud Anda.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191107192129-185-446457/cara-deteksi-ponsel-yang-terjangkit-spyware
Share:

Adu Kencang Jaringan 6G, dari China Hingga Finlandia

Adu Kencang Jaringan 6G, dari China Hingga Finlandia Ilustrasi jaringan 6G. (CNN Indonesia/Jonathan Patrick)
 Implementasi konektivitas 5G belum sepenuhnya diadopsi. Saat ini baru Korea Selatan dan China yang resmi menggelar 5G. Walau sebelumnya Amerika Serikat sempat digadang-gadang menjadi negara pertama yang mengadopsi jaringan itu.

Saat ini, diketahui setidaknya ada empat negara yang mulai melakukan studi terkait pengembangan jaringan nirkabel 6G, yaitu Korea Selatan, China, Finlandia, dan Amerika Serikat.

Meski belum mengimplementasikan 5G, Presiden Donald Trump melalui cuitan di akun Twitter pribadinya mengatakan bakal segera menerapkan jaringan 5G bahkan 6G.


"Saya ingin 5G bahkan 6G untuk segera diimplementasikan di Amerika Serikat. Perusahaan-perusahaan Amerika harus meningkatkan kinerja mereka agar tidak tertinggal," cuit Trump @realDonaldTrump pada 21 Februari lalu.

Jurnalis The Verge sempat meminta komentar kepada perwakilan Industri Komunikasi Nirkabel AS (CTIA) mengenai cuitan Trump itu. Namun, pihak CTIA tidak memberikan jawaban pasti.

"Dukungan pemerintah sangat mempengaruhi industri nirkabel untuk dapat membawa jaringan 5G segera ke Amerika," tuturnya.



Beralih ke Korea Selatan, salah satu lembaga penelitian negeri ginseng itu pada 12 Juni lalu telah menandatangani nota kesepahaman dengan Universitas Oulu asal Finlandia.

Penandatangan dilakukan untuk melakukan studi bersama terkait jaringan 6G. Dilansir portal berita Korsel, kerja sama kedua negara terjadi saat Presiden Moon Jae In melakukan lawatan ke Finlandia.

"Korea Selatan merupakan negara pertama di dunia yang mengkomersilkan layanan seluler 5G dan Finlandia yang menjadi ujung tombak penelitian 6G," tutur Moon.

Di dalam perjanjian itu terungkap bahwa Universitas Oulu Finlandia bakal menggelontorkan dana sekitar 30 miliar won atau US$25,4 juta untuk menggelar proyek 6G.

Sementara itu, salah satu operator telekomunikasi Korsel, SK Telecom telah menggandeng dua vendor ponsel yaitu Nokia dan Ericsson untuk melakukan penelitian dan pengembangan jaringan nirkabel 6G.


SK Telecom akan membuat serangkaian persyaraatan membangun dan mengauntentifikasi teknologi dari jaringan nirkabel 6G.

Selain Ericsson dan Nokia, Samsung menyatakan akan mengadakan penelitian jaringan 6G. Untuk mendukung upaya tersebut, perusahaan asal Korea Selatan ini telah memperluas tim riset telekomunikasi dan membentuk grup bernama Advanced Research Center yang berkantor di Seoul, Korea Selatan.

Hari ini (8/11), Kementerian Sains dan Teknologi China menyatakan pihaknya bakal memulai studi untuk pengembangan konektivitas 6G dengan membentuk dua kelompok kerja.

Dilansir CNBC, nantinya satu kelompok terdiri dari anggota pemerintahan yang bertanggung jawab untuk mempromosikan bagaimana penelitian dan pengembangan 6G akan dilakukan.

Sementara satu tim lain, anggotanya terdiri dari lembaga penelitian, perusahaan swasta dan 37 universitas yang bertugas untuk memaparkan sisi teknis 6G dan menyusun rekomendasi.

"Teknologi 6G masih dalam tahap awal, teknisnya masih belum jelas bahkan skenario standarisasi frekuensinya juga belum ditetapkan," kata Wakil Menteri Sains dan Teknologi, Wang Xi.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191108205009-185-446801/adu-kencang-jaringan-6g-dari-china-hingga-finlandia
Share:

Recent Posts